Honorer Kebersihan Toraja Utara Keluhkan, Uang Makannya Belum Dibayar

0 Viewers
Share:


Honorer Kebersihan Toraja Utara sedang apel Selasa pagi tadi (11/12) dipimpin Kabid Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Torut, Obed.

TORAJA UTARA (SUL-SEL) MI - Komitmen Pemda Toraja Utara dalam memelihara dan menjaga kebersihan tampaknya masih harus diuji. Pasalnya, tenaga kebersihan yang umumnya masih honorer di bawah Dinas Lingkungan Hidup Hidup Torut, belum sepenuhnya merasakan fasilitas dan kesejahteraan yang diberikan.

Buktinya, seperti disampaikan seorang tenaga honorer kebersihan setempat, uang makan belum mereka terima dalam beberapa bulan. "Uang makan Desember 2017 dan November - Desember 2018 belum dibayar. Alasannya katanya anggaran tidak mencukupi. Kemungkinan karena untuk 2018 ada pengadaan eskavator untuk bidang kebersihan," ujar sumber berinisial DOT, melalui via telepon genggam, selepas apel di halaman kantor Dinas Lingkungan Hidup Torut, Selasa pagi tadi (11/12).

Selain itu, katanya, yang dikeluhkan para honorer kebersihan ini, adalah BPJS Kesehatan mereka yang sudah diberhentikan sejak 2017. "Ini juga yang kami perjuangkan mengenai BPJS. Tahun 2017 sudah tidak diaktifkan sampai sekarang. Katanya dari Pemda yang nonaktifkan atau tidak bayar. Ini kami tahu setelah ada teman yang lalu berobat mau pakai BPJS ternyata sudah dihentikan," tuturnya.

Jumlah personil tenaga kebersihan di lingkup Dinas Lingkungan Hidup Torut sendiri, menurut DOT, berkisar 100 orang lebih. Namun demikian, tambahnya, masalah uang makan ini sudah dibicarakan dengan Bupati Kala' Paembonan, beberapa waktu lalu. Hanya belum diketahui hasilnya seperti apa.

Dikonfirmasi, Kadis Lingkungan Hidup Ir. Arung Bato'lipa' juga membenarkan, masalah uang makan tersebut sudah dibicarakan dengan Bupati Kala'. Namun ia tidak merinci hasil pembicaraan itu. "Iya saya dipanggil bupati. Bupati mau bayar, memang dalam perhitungan. Tapi waktu itu tidak ada dalam DPA. Mungkin baru satu bulan tahun 2018 belum dibayar. Kan dihitung 5 hari selama ini nah sekarang 6 hari jadi tidak cukup lagi. Kami juga bingung," jelas Arung yang ketika dihubungi melalui via telepon seluler miliknya. (Jonan).
loading...