Proses Kasus Penganiyaan Ngambang, Kinerja Polres Gowa Dipertanyakan

0 Viewers
Share:


MAKASSAR, mitraindonesia.net – Tim Satuan Reserse Kriminal Polres Gowa dinilai tidak mampu dan terkesan lamban dalam melakukan penyidikan kasus penganiayaan Warga Negara Asing (WNA) asal Turki atas nama Ilham Kaya.

Penasehat Hukum Ilham Kaya , Akhmad Rianto, SH mengatakan penetapan pasal 365 KUHP tentang perampasan dan pencurian oleh penyidik kepada delapan tersangka tidak sesuai dengan fakta yang terjadi ditempat kejadian perkara.

“Ini berawal dari penagihan utang. Buntut dari itu terjadilah cekcok hingga berujung sampai penganiyaan dan klien saya Ilhan Kaya mengalami memar dan luka pada bagian kepala dan telinga, atas kejadian itu Ilhan Kaya dirawat selama empat hari di RS Grestelina,” kata Akhmad Rianto, SH, Jumat (16/2/19).

Dengan demikian menurut Rinto sapaan akrabnya, ada indikasi antara pihak kepolisian dengan pelaku main mata. Hal ini terlihat sangat jelas dari penerapan pasal yang tidak sesuai faktanya dan juga tidak dilakukannya pengusutan secara tuntas kepada semua pelaku yang berjumlah delapan orang.

“Pelaku yang sempat ditahan itu empat orang, empat lainnya tidak dilakukan pengusutan apapun,” kata Rinto.

Selain itu, Rinto juga menduga adanya penangguhan kepada empat orang tersangka masing-masing Hj Subaedah, H Syukri, H Damis Sullse dan Hj Wahidah tidak memiliki alasan jelas, sebab empat pelaku utama lainnya masing-masing Ba’di, Sudi, Rasyid dan Fathur tidak ditemukan.

“Kami duga dengan dibebaskannya empat pelaku tanpa menyeret empat ini adalah hal istimewa yang diberikan oleh kepolisian . Sebab mereka dapat menghilangkan barang bukti atau mengulangi perbuatannya ,” jelasnya.

Sementara itu, Penasehat Hukum lainnya Syahrul Ramadhan menambahkan mestinya pasal ditetapkan untuk menjerat pelaku antara lain pasal 170 KUHP Junto pasal 55 yakni melakukan pengoroyakan secara bersama-sama. Sebab jika pasal perampasan itu lemah, dan tidak masuk dalam logika jika kedatangan mereka untuk merampas HP dan lainnya.

“Ini soal piutan, mereka datang pasti menagih bukan melakukan perampasan. Jadi sangat tidak masuk diakal pasal yang diterapkan oleh polisi yakni perampasan itu,” jelasnya.

Keanehan lainnya, lanjut dia polisi menolak laporan korban Ilhan Kaya, Padahal Ilhan Kaya merupakan korban utama yang mengalami sejumlah luka-luka . ” Saat korban keluar dari rumah sakit, Dia langsung melaporkan penganiyaan dan pengoroyakan itu kepolisian dan hasilnya ditolak oleh penyidik, dengan alasan sudah dilaporkan oleh pembantunya,” jelasnya.

Atas dasar kejanggalan tersebut, pihaknya akan melaporkan Polres Gowa kepada Mabes Polri dengan dugaan tidak bekerja profesional sebagaimana tanggungjawabnya selaku penegak hukum.

“Kami sangat tidak puas dengan tindakan Polres Gowa. Terlebih lagi kasus ini sudah dua kali di tolak oleh Kejari Gowa dengan alasan tidak cukup bukti. Kami juga sebagai layer memang melihat jika pasal yang dipakai itu tidak cukup bukti,” katanya.

Sementara itu, Ilham Kaya berharap agar penegak hukum di Indonesia tidak membedakan antara warga negara asing dengan warga negara Indonesia sendiri. Dia menilai jika selama ini dirinya telah dikriminalisasi.

“Kenapa saya mengatakan saya ini dikriminalisasi , karena saya juga dilaporkan dan sudah dipanggil pada 13 Februari lalu atas tuduhan pengancaman yang saya lakukan saat mereka datang dirumah menagih, padahal jelas-jelas saya ini korban pengoroyakan,” ujarnya.

Sebelumnya Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, insiden penganiayaan itu terjadi pada Senin (17/9) lalu. Saat itu IK didatangi 5 orang pria berbadan tegap untuk menagih utang.

“Pelaku berusaha menagih (utang) dan kemudian menggunakan kekerasan terhadap korban hingga luka berat. Korban merupakan mantan tentara Turki,” kata Dicky.

Dalam rumah itu juga terdapat asisten rumah tangga korban yang melihat tindakan kekerasan dan berusaha merekam melalui telepon genggam. Namun, kata Dicky, para pelaku merampas dan membanting telepon tersebut.

“Korban mengalami luka cukup parah. Bagian kepala (pendarahan dalam), memar dan lecet pada dahi, mata, luka robek pada telinga dan kepala,” ungkap Dicky.

Dicky mengatakan kelima pelaku datang ke rumah korban atas perintah Subaedah (50), Sukri (50), dan Wahidah (46). Ketiga orang bersaudara itu yang memberikan korban uang pinjaman.

“Korban pinjam uang untuk modal usaha ke pelaku, namun modal usaha tersebut dibebankan bunga yang cukup besar,” ucap Dicky.

Polisi yang mendapatkan laporan penganiyaan tersebut langsung mengejar para pelaku. Dicky menyebut polisi berhasil menangkap pelaku penganiayaan bernama Damis (40), sedangkan 4 lainnya masih dalam pengejaran polisi.

“Kita juga amankan yang menyuruh kelima pelaku yakni Subaedah (50), Sukri (50), dan Wahidah (46),” ucap Dicky.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, keempat pelaku dijerat Pasal 365 KUHP dan atau Pasal 170 KUHP jo Pasal 55, Pasal 56 KUHP. (*).
loading...