Kuliner Nusantara: Elemen Penting Poros Geopolitik Jakarta-Riyadh

0 Viewers
Share:


Opini - Sejumlah bahan baku dan produk kuliner nusantara menjadi elemen penting dalam poros geopolitik Jakarta-Riyadh. Sebut saja buah-buahan produk lokal Indonesia seperti buah naga, rambutan, durian, belimbing, manggis, salak, pisang, sirsak, nangka, pepaya, dan mangga. 

Ada pula sayur-mayur seperti cabai, bawang putih, bawang merah, petai, jengkol, kemiri, daun kelapa, buah kelapa, dan tanaman apotek hidup, serta rempah-rempah seperti lengkuas, jahe, kayu manis, dan kemiri.

Termasuk aneka produk kuliner dan makanan olahan seperti kacang-kacangan, produk olahan kacang, kerupuk, biskuit, aneka kopi sachet (seperti Good Day), minuman sereal (seperti Energen), gula merah, mie dan bihun, tepung beras, tepung jagung, kecap sedap, santan cair Kara, buah:-buahan kaleng, tuna, dan kedelai.

Hal ini terbukti dari besarnya kuantitas impor sayur-mayur, buah-buahan, produk makanan olahan, dan aneka ragam kuliner Indonesia oleh perusahaan swasta Arab Saudi pada tahun 2018. Perusahaan itu bernama Maula Al Dawilah Trading & Co. Adapun nilai impornya selama satu tahun (pada 2018) mencapai US$ 5,35 juta atau sekitar Rp 77 miliar.

Informasi ini disampaikan oleh Kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, Gunawan, pada 16 Januari 2019. Tepatnya dalam pertemuan bisnis di pergudangan Maula Al Dawilah Trading & Co, Jeddah, Arab Saudi.

Maula Al Dawilah Trading & Co pun mengimpor buah-buahan dari Indonesia secara rutin, sejumlah 3-5 ton setiap pekan atau sebanyak 130-170 ton per tahun pada 2018. Buah-buahan itu dikirim melalui kargo udara selama dua hari ke Jeddah, Arab Saudi. Adapun konsumen atau Pangsa pasar produk itu adalah masyarakat Indonesia yang sedang menunaikan ibadah haji dan umrah di Arab Saudi.

Secara alamiah, Jamaah haji dan umrah asal Indonesia  serta ekspatriat Indonesia di Arab Saudi berhasil menjadi ujung tombak pemasaran sekaligus konsumen produk kuliner nusantara di Arab Saudi. Khususnya di kota-kota besar seperti Mekah al Mukarramah, Madinah al Munawwarah, Jeddah, Riyadh, dan Thaif. Hal ini terbukti dari impor bahan baku dan produk kuliner dari Indonesia ke Arab Saudi dalam jumlah besar pada tahun 2018.

Menurut sensus penduduk Tahun 2010 yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) RI, tercatat ada 207.176.162 penduduk Muslim di Indonesia. Angka ini mencapai 87,18 persen dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 237.641.326 jiwa. Dampaknya, Indonesia memiliki kuota haji terbesar di dunia. Jumlahnya mencapai 221.000 jamaah haji pada tahun 2017 dan 2018. 

Angka kuota haji ditentukan oleh pemerintah Arab Saudi sebagai negara pemegang otoritas Masjidil Haram. Hal ini sesuai dengan kesepakatan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Amman, Yordania, pada tahun 1987. KTT OKI sepakat bahwa dari setiap 1.000 orang penduduk Muslim di suatu negara, hanya satu orang yang berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji.

Di sisi lain, jumlah ekspatriat Indonesia (Warga Negara Indonesia/ WNI) yang terdaftar di wilayah kerja Kedutaan Besar RI (KBRI) Riyadh hingga 17 Agustus 2018 mencapai 260.000 orang. Sedangkan jumlah ekspatriat Indonesia yang terdaftar di wilayah kerja KJRI Jeddah mencapai sedikitnya 300 ribu orang. Jadi terdapat sedikitnya 560 ribu ekpatriat Indonesia di Arab Saudi. 

Bahkan menurut Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno Lestari Priansari, terdapat lebih dari 600 ribu ekspatriat Indonesia di Arab Saudi. Menlu Retno menyatakan hal itu pada Selasa, 23 Oktober 2018, saat bertemu Menlu Kerajaan Arab Saudi (KAS), Adel al-Jubeir, di Jakarta.

Dengan demikian, bahan baku dan produk kuliner nusantara menjadi elemen penting dalam poros geopolitik Jakarta-Riyadh. Hal ini terkait erat dengan besarnya jumlah jamaah haji dan umrah asal Indonesia, serta ekpatriat Indonesia di Arab Saudi.

Selain itu, pentingnya kuliner dalam poros geopolitik Jakarta-Riyadh juga terlihat dari terpilihnya Indonesia sebagai tamu kehormatan dalam World Franchise Exhibition (WFE) 2019. Fakta ini sekaligus mendeskripsikan aliansi strategis Indonesia-Arab Saudi dalam bidang ekonomi. Pameran franchise berskala internasional ini akan diselenggarakan pada 27-29 April 2019 di Dhahran International Exhibition Centre, Kota Al Khobar, Arab Saudi.

WFE 2019 menargetkan pengunjung 100 ribu orang dari Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya. Terdapat 150 perusahaan dan 600 merek yang akan berpartisipasi. Indonesia juga memiliki paviliun seluas 144 meter persegi dan akan menghadirkan sejumlah perusahaan swasta nasional seperti Indomie, J-Co, ABC, dan Sasa. Keempat perusahaan itu menjadi produsen kuliner nusantara yang telah disekpor dan dikenal luas masyarakat ke Arab Saudi.

Informasi di atas disampaikan oleh Duta Besar (Dubes) Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBPP) RI untuk KAS, Agus Maftuh Abegebriel, pada Selasa, 19 Maret 2019, dalam keterangan tertulisnya. Dubes Agus Maftuh juga menjabat Wakil Tetap RI untuk OKI.

Lebih lanjut, sejumlah restoran milik ekspatriat Indonesia juga menjadi primadona di Arab Saudi. Sebut saja Restoran Garuda dan Warung Bakso Mang Oudin di Balad, Jeddah, Rumah Makan Indonesia di dekat Masjid Nabawi, Madinah, Mr. Sate dan Restoran Batavia di distrik Ash-Sharafiyyah, Jeddah, Restoran Pasundan di distrik al-Baghdadiyah as-Sharqiyah, Jeddah, dan Restoran Putri Sriwijaya di distrik al-Ruwais, Madinah, serta Restoran Wong Kito 'Sumatera" di Rumah Sakit Wiladah wal Atfal, Mekah.

Aneka ragam produk kuliner Indonesia di Arab Saudi tentu mewakili tradisi dan budaya nusantara yang berbeda-beda. Menurut data BPS RI pada tahun 2010, Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa dan sedikitnya 3.000 jenis tarian asli. Fakta ini menyebabkan sangat banyaknya jenis kuliner khas nusantara. Kondisi tersebut juga menjadi pertimbangan utama Raja Salman untuk mengundang Indonesia sebagai tamu kehormatan dalam Festival Janadriyah ke 33.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia terpilih sebagai tamu kehormatan dalam Festival Janadriyah Ke 33 di Riyadh, Arab Saudi. Festival sejarah dan budaya internasional terbesar di Timur Tengah ini berlangsung sejak 20 Desember 2018 hingga 9 Januari 2019.

Dalam festival ini, Indonesia menempati paviliun sebesar 2.500 meter persegi. Diperkirakan sekitar 10 juta orang dari Arab Saudi dan negara-negara Teluk telah berkunjung ke Festival Janadriyah. Bahkan luas paviliun ini 10 kali lipat lebih besar dari paviliun India pada Festival Janadriyah ke 32. Saat itu, India juga menjadi tamu kehormatan. 

Terpilihnya Indonesia menandai babak baru dalam hubungan bilateral kedua negara. Khususnya pasca kunjungan kenegaraan sekaligus liburan Kepala Negara Kerajaan Arab Saudi (KAS), Raja Salman bin Abdul Aziz al Saud,  ke Jakarta, Bogor dan Bali, Indonesia, pada 1-12 Maret 2017 bersama 1.500 rombongan kerajaan.

Artinya, Indonesia memiliki posisi istimewa di mata Kepala Negara KAS, Raja Salman bin Abdul Aziz al Saud, khususnya dalam hubungan kebudayaan. Apalagi penetapan Indonesia sebagai tamu kehormatan dilakukan melalui Dekrit Raja Salman pada September 2018.


Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si.

Alumnus Pascasarjana Program Studi (Prodi) Kajian Timur Tengah dan Islam (KTTI), Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG), Universitas Indonesia (UI).

Deputi Direktur Jaringan dan Kerja Sama Muslim Youth Forum on International Issues (MYFII).

Nomor Kontak: 087880747530

Email: muhammad.ibrahim62@ui.ac.id

Alamat di Jakarta: Jalan Kalibaru Timur IV Nomor 2, Bungur, Senen, Jakarta Pusat, DKI Jakarta.
loading...