Hardiknas Hanya Sekedar Momentum Para Pahlawan Pendidikan

0 Viewers
Share:

M. Sutanto Idris.

mitraindonesia.net, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap tahunnya pada tanggal 2 Mei untuk memperingati kelahiran Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara, pelopor Pendidikan Bangsa Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. 

Pada hakikatnya, peringatan Hari Pendidikan Nasional dijadikan sebagai momentum kebangkitan dunia pendidikan indoneia dengan semangat yang terus diperbarui guna mewujudkan pendidikan yang lebih baik dan lebih maju dari hari ke hari sekaligus sebagai momentum untuk merefleksi wajah dunia pendidikan kedepannya.

Tentu kita semua menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi kehidupan dan masa depan. Dan harapan tentang pendidikan masih saja terus dibicarakan berbagai kalangan, tetapi kenyataannya, harapan hanya sekedar harapan. Semua itu hilang ketika kepala sekolah atau yang memimpin upacara membubarkan barisan tanda upacara telah usai. Dan jika Hari Pendidikan Nasional terus seperti ini, Hardiknas bukan lagi menjadi momentum untuk memperbaiki diri, tetapi hanya jadi ajang perayaan dan peringatan untuk mengenang pahlawan pendidikan.

Seharusnya, Hardiknas dijadikan tolak ukur perkembangan dunia pendidikan yang ada di Negara tercinta kita ini, karena tujuan dan cita-cita Bangsa Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa. Dan untuk memaknai mencerdaskan kehidupan bangsa itulah yang seharusnya dialakukan ketika Hardiknas telah didepan mata.

Para pahlawan Pendidikan berjuang agar masyarakat memperoleh pendidikan yang kesetaraannya merata, agar Bangsa Indonesia terlepas dari cengkraman penjajah. Tidak peduli kaya, miskin, perempuan, laki-laki, kaum borjuis maupun kaum marjinal. Mereka harus memperoleh pendidikan yang layak. Dan dasar inilah berbagai sekolah pun akhirnya berdiri bermodalkan hati nurani tak mengharapkan imbalan, mengorbankan diri untuk jadi relawan dengan gaji pas-pasan, semua itu dilakukan agar Bangsa Indonesia mampu bersaing dengan Bangsa luar dan terlepas dari air mata darah yang telah diperbuat para penjajah.

Harusnya hal inilah yang dimaknai kembali ketika merayakan Hardiknas. Kita dikembalikan mengingat tentang bagaimana mereka yang cerdas mau saling berbagi ke meraka yang tertindas, bukan malah sebaliknya yang cerdas malah terlihat menindas. Bagaimana tidak pendidikan bermutu masih saja milik mereka yang mampu. Bagaimana dengan yang tidak mampu?. Mereka ibarat berada di zaman penjajahan, hanya bedanya penjajahannya berbentuk modern tidak bermandikan darah dan air mata melainkan bermandikan kebodohan dan ketertindasan bagi mereka yang tak mampu menyediakan uang. Karena biaya pendidikan yang bermutu, tidak mampu digapai oleh mereka yang kurang mampu.

Pendidikan yang kemarin tidak memandang status sosial baik pria, wanita, kaya, miskin, kaum borjuis, dan kaum marginal kini hilang begitu saja. Sekarang yang ada hanya tinggal kenangan yang terus dirayakan di Hardiknas dengan penghormatan tehadap mereka yang pernah merealisasikannya. Masyarakat miskin makin tertindas untuk menjadi yang lebih baik di bidang pendidikan. Bayangkan saja, untuk masuk sekolah negeri terfavorit dengan sejuta fasilitas. Mereka harus rela kalah saing dengan mereka yang menggunakan jasa dari oknum pendidik, agar mudah masuk dengan menawarkan sejumlah uang. Inilah wajah pendidikan kita yang ada saat ini, ada uang ada barang, ada uang akan ada rasa!.

Revolusi mental yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) semenjak menjabat sebagai Presiden Indonesia. Bukan hanya revolusi mental birokrasi tapi juga harus mampu masuk menjadi revolusi mental dunia pendidikan.

Revolusi Mental Pendidikan yang merupakan suatu alat untuk memanusiakan manusia harus sejalan dengan cita-cita bangsa Indonesia yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Tokoh Pendidikan, Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan untuk menempatkan manusia sebagai pemimpin. Pemimpin yang ketika di depan ia jadi panutan, ketika di tengah ia menjadi penggerak dan ketika di belakang ia menjadi pendorong. Bukan menjadikan orang ketika di depan ia menindas, ketika di tengah ia tak mau mengalah, ketika di belakang ia malah bertindak curang.

Maka dari itu, revolusi mental pendidikan harus dimulai dari sekarang. Indonesia pasti mampu menciptakan pendidikan yang merata, pendidikan yang mampu memanusiakan manusia. Jika hal tersebut terjadi, setiap orang yang ingin melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi tidak akan pernah kebobrokan ketika pembukaan penerimaan mahasiswa baru tidak ada yang main uang atau pungutan liar. 

Inilah saatnya untuk meneriakan gerakan perubahan bagi dunia pendidikan agar mampu menghasilkan SDM yang siap pakai dan siap untuk membawa Indonesia ke kancah Internasional.

Revolusi mental pendidikan adalah hal yang harus segera dilakukan, pemerintah harus mampu membersihkan dunia pendidikan dari tikus yang ingin memperkaya diri. Jangan sampai tikus kembali lagi mengrogoti dan bersembunyi di balik gedung bernamakan pendidikan. Karena jika tikus masih terus bersembunyi di sana, maka kebobrokan dunia pendidikan yang saat ini kita rasakan tidak akan pernah hilang.

Mari semuanya ikut berpartisipasi, karena masih banyak anak di Negeri ini yang layak mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Jangan karena biaya yang sangat mahal membuat mereka enggan untuk melangkah menggapai cita-cita. Pendidikan harus mampu menjadi obat ketika kemiskinan dan kebodohan menjadi masalah yang merajalela. Jangan biarkan Hardiknas ini berakhir diupacara saja, Hardiknas harus berakhir dengan menebar asa bahwa pendidikan di Indonesia masih bisa berubah menjadi pendidikan yang mampu digapai oleh semua kalangan.

Penulis : M. Sutanto Idris.
loading...